RSUI dan BSSN Perkuat Keamanan Siber Rumah Sakit melalui Seminar dan Workshop Nasional

Depoksatu.com | Beji

Dalam upaya mengoptimalkan layanan kesehatan sekaligus memperkuat sistem keamanan data medis, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyelenggarakan Seminar dan Workshop bertajuk "Fortifying The Digital Hospital: Strategi Keamanan Siber Berbasis Standar Nasional Menuju Transformasi Layanan Kesehatan Indonesia" di Auditorium RSUI pada 8–9 Juli 2026.

Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi jangka panjang dalam membangun ekosistem digital kesehatan nasional yang aman, tangguh, terpercaya, dan berdaulat. Lebih dari 70 rumah sakit dari berbagai daerah turut berpartisipasi sebagai bentuk komitmen bersama memperkuat keamanan siber di lingkungan layanan kesehatan.

Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara RSUI dan BSSN. Menurutnya, transformasi digital telah meningkatkan kecepatan dan efisiensi layanan rumah sakit, namun juga menghadirkan tantangan baru berupa ancaman siber.

"Transformasi digital meningkatkan kecepatan dan efisiensi layanan rumah sakit, tetapi juga dapat mendatangkan risiko kerawanan siber baru. Oleh karena itu, penguatan perlindungan terhadap kerahasiaan data medis pasien menjadi tanggung jawab bersama," ujar dr. Kusuma.

Senada dengan hal tersebut, Deputi III Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia BSSN, Dr. Sulistyo, S.Si., S.T., M.Si., menegaskan bahwa perlindungan aset digital di fasilitas kesehatan, mulai dari rekam medis elektronik hingga layanan telemedicine yang terintegrasi melalui platform SatuSehat, merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.

"Gangguan pada sistem teknologi informasi di rumah sakit bukan lagi sekadar insiden administratif biasa, melainkan ancaman nyata yang dapat berdampak langsung terhadap keselamatan pasien," tegas Sulistyo dalam keynote speech-nya.

Sebagai langkah mitigasi, BSSN berkomitmen memberikan pendampingan kepada fasilitas kesehatan melalui bimbingan teknis pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS). Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi berbagai ancaman siber, sekaligus menjawab tantangan implementasi di lapangan, mulai dari komitmen manajemen, integrasi sistem, penganggaran, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Direktur Operasional RSUI, dr. Tommy Dharmawan, Sp.B.T.KV., Subsp.JD(K), Ph.D., menekankan bahwa keamanan siber merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mutu pelayanan rumah sakit.

Menurutnya, rumah sakit mengelola data pasien dan informasi kesehatan yang bersifat sangat rahasia sehingga penguatan sistem keamanan informasi menjadi keharusan untuk melindungi kerahasiaan data sekaligus menjamin keberlangsungan layanan kesehatan.

Pembahasan mengenai aspek regulasi diperkuat dalam sesi diskusi panel yang menghadirkan Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Dr. Lukman Nul Hakim, S.E., M.M. Ia menjelaskan bahwa regulasi nasional mewajibkan fasilitas kesehatan membentuk TTIS secara sistematis melalui tahapan persiapan, implementasi, hingga evaluasi berkala.

Pada kesempatan yang sama, Manajer SIMRS dan TI RSUI, Dr. Ir. Ahmad Firdausi, S.T., M.T., IPM, membagikan pengalaman RSUI yang telah menginisiasi pembentukan TTIS sejak tahun 2024 sebagai bagian dari strategi penguatan keamanan siber di lingkungan rumah sakit.

Sementara itu, Business Solutions Architect Cisco Systems Indonesia, Hansel Gideon Gunawan, B.App.Sc (IT), M.M., menegaskan bahwa transformasi digital di sektor kesehatan bukanlah proyek jangka pendek, melainkan kapabilitas yang harus terus dikembangkan melalui evaluasi tingkat kematangan keamanan secara berkala agar arah pengembangan sistem tetap relevan dengan dinamika ancaman siber.

Melalui penyelenggaraan seminar dan workshop ini, RSUI kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas keamanan siber di sektor kesehatan melalui kolaborasi strategis bersama BSSN. Forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik mengenai penguatan keamanan siber, perlindungan data kesehatan, dan penerapan standar keamanan informasi bagi rumah sakit maupun para pemangku kepentingan di bidang kesehatan.

Diharapkan, kolaborasi ini dapat memperkuat tata kelola keamanan informasi nasional sekaligus meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi tantangan keamanan siber di era transformasi digital.(wan)

Post a Comment

0 Comments