Depoksatu.com | Beji
Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) kembali mewujudkan komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kali ini, dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil PNJ berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Ashhaburratib, Kecamatan Beji, Kota Depok, dalam pembangunan pondasi dan kolom struktur untuk mendukung pengembangan fasilitas pendidikan pesantren.
Program tersebut dilaksanakan sebagai respons terhadap kebutuhan Pondok Pesantren Ashhaburratib akan ruang belajar dan administrasi yang lebih memadai, sekaligus memenuhi aspek keamanan dan kekuatan struktur bangunan. Melalui penerapan keilmuan di bidang konstruksi, tim PKM PNJ memberikan pendampingan teknis mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan pekerjaan struktur.
Ketua Tim PKM PNJ, Istiatun, S.T., M.T., mengatakan bahwa kegiatan difokuskan pada pembangunan pondasi dan tiga kolom beton bertulang di lantai dasar. Elemen-elemen tersebut memiliki peran penting sebagai struktur penopang ruang kelas yang direncanakan berada di lantai atas serta menjadi dasar bagi pengembangan ruang administrasi pesantren.
“Kegiatan kami difokuskan pada pembuatan pondasi dan tiga kolom beton bertulang di lantai dasar. Elemen struktural ini sangat krusial karena akan berfungsi sebagai penopang utama ruang kelas di lantai atas, sekaligus menjadi dasar untuk perluasan ruang administrasi pesantren,” jelas Istiatun.
Dalam pelaksanaannya, Istiatun didukung oleh dua dosen dengan keahlian lintas bidang. Anni Susilawati, S.T., M.Eng. bertanggung jawab terhadap perencanaan teknis dan pengawasan mutu konstruksi, sedangkan Darul Nurjanah, S.Ag., M.Si. berperan dalam koordinasi sosial dan budaya dengan mitra yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan.
Program ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi D-3 Konstruksi Gedung PNJ. Para mahasiswa turut berpartisipasi dalam berbagai tahapan pekerjaan, mulai dari pengukuran lapangan (setting out), pembesian, pemasangan bekisting, hingga kegiatan administrasi dan dokumentasi proyek.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari pelaksanaan PKM karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk menerapkan pengetahuan akademik secara langsung di lapangan. Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa dalam memahami kondisi nyata pekerjaan konstruksi, termasuk bagaimana melakukan koordinasi dan menyelesaikan kendala teknis di lapangan.
Berdasarkan laporan kemajuan hingga pertengahan Juli 2026, pembangunan fisik menunjukkan perkembangan yang signifikan dan berjalan sesuai jadwal. Sejumlah tahapan penting telah diselesaikan, antara lain pengukuran lapangan, pembobokan sebagian dinding eksisting, penggalian tanah untuk pondasi, fabrikasi tulangan, serta pemasangan bekisting pondasi dan kolom yang telah siap memasuki tahap pengecoran beton.
Kondisi lapangan yang berada di area bangunan eksisting menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan kegiatan. Keterbatasan ruang kerja mengharuskan tim menerapkan metode kerja yang cermat, terutama ketika melakukan pembobokan dinding dan penggalian pondasi agar tidak mengganggu struktur bangunan yang telah berdiri.
“Tantangan terbesar di lapangan adalah ruang kerja yang terbatas karena berlokasi di area bangunan yang sudah berdiri. Kami harus sangat berhati-hati saat pembobokan dinding eksisting dan penggalian pondasi agar tidak merusak struktur yang sudah ada. Namun, melalui koordinasi intensif bersama pihak pesantren dan penyesuaian metode kerja, kendala tersebut berhasil kami atasi dengan aman,” tambah Istiatun.
Tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, kegiatan PKM PNJ ini juga menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Tim memberikan pendampingan teknis kepada pihak pesantren mengenai tahapan pelaksanaan konstruksi beton bertulang yang sesuai dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Pendampingan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mitra mengenai pentingnya pelaksanaan konstruksi yang memenuhi standar, mulai dari pekerjaan pondasi, pembesian, bekisting, hingga proses pengecoran dan perawatan beton (curing). Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas mitra dalam mengelola dan mengembangkan fasilitas pesantren secara berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Melalui penyelesaian pekerjaan struktur bawah, termasuk proses pengecoran dan perawatan beton, fasilitas pendidikan di Pondok Pesantren Ashhaburratib diharapkan dapat segera dikembangkan sesuai kebutuhan. Infrastruktur yang lebih kokoh dan aman diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi para santri sekaligus mendukung tata kelola administrasi pesantren yang semakin modern dan tertata.
Kolaborasi PNJ dan Pondok Pesantren Ashhaburratib menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ke depan, sinergi semacam ini diharapkan terus berkembang sehingga manfaat pendidikan tinggi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.(Ndi)





0 Comments